banner

COSTUMER SERVICE
MARKETING
CUSTOMER BANK
BANK DEPOSIT

Rekening BCA Aero Pulsa
1470455558

Rekening Bank Mandiri Aero Pulsa
9000011611622

Rekening BNI Aero Pulsa
1116116225

Rekening BRI Aero Pulsa
622801002178500

 Semua An USEP SUDRAJAT

Ayo…Go Analytic!

Oleh : Ngurah Adnyana,Direktur (Operasi Jawa Bali Sumatera)

“Setelah acara ini, saya mau mampir ke Area Karawang” saya berbisik ke Pak Bambang Budiarto – GM PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten yang duduk disebelah kanan saya. Pak Bambang mengangguk dan kemudian menoleh kesebelah kanannya dan berbisik ke Pak Andhoko – Manajer Area Karawang. Saya tidak mendengar apa yang dibisikkan, tapi ya tentunya meneruskan apa yang saya bisikkan ke Pak Bambang. Tidak mungkin membisikkan yang lain bukan ? Kami berbisik karena sedang mengikuti acara penandatanganan perjanjian penyambungan listrik kepada tiga kawasan industri Karawang International Industrial City (KIIC), Greenland International Industrial Center (GIIC), Artha Industrial Hill (AIH) yang berlokasi di Kabupaten Karawang yang membutuhkan listrik sekitar 2000 MVA sampai tahun 2019 sehingga PLN perlu membangun GITET dan tiga Gardu Induk selain pembangkit listrik.

Maka setelah selesai acara penandatanganan saya kemudian ‘blusukan’. Blusukan di sini bukan jalan sendiri tapi sudah didampingi. Masih disebut blusukan karena rencana kunjungan diberitahu mendadak sehingga yang terlihat nanti apa adanya, tidak ada persiapan tertentu seperti kalau ada kunjungan terencana.

Begitulah, bersama Pak Bambang, Pak Andhoko dan Pak Rahimuddin – Manajer Bidang Niaga PLN Distribusi Jabar Banten yang juga hadir di acara penandatanganan, kami berangkat ke kantor Area Karawang. Sebelumnya saya pernah ke kantor PLN Karawang saat banjir besar melanda Karawang dan sekitarnya dan saat itu kantor PLN dijadikan Posko Banjir.

Sesampainya di Kantor Area Karawang, saya lihat ada Rayon Prima Karawang yang berkantor di bangunan yang sama. Rayon Prima ini hanya melayani pelanggan diatas 200 kVA yang dipasok dengan Tegangan Menengah (TM) 20 kV dan Tegangan Tinggi (TT) 150 kV. Di Bali dan Jakarta pelanggan TM dan TT dilayani oleh Area Prima, satu di Bali dan tiga di Jakarta. Saya pun masuk ke ruangan Rayon Prima tersebut dan bertemu dengan beberapa anak muda.

Sambil berdiri ririungan (berkumpul), saya tanya kepada anak-anak muda itu :
“Berapa jumlah pelanggan prima yang dilayani Rayon Prima ini ?” Mereka menjawab: “Ada sejumlah 576 pelanggan Pak.”
Saya tanya lagi : “Pelanggan mana yang rekeningnya paling besar dan berapa nilainya?”
Mereka menjawab : “Pelanggan terbesar PT AT Indonesia II dengan rekening sekitar Rp 15 M/bulan.” Pak Andhoko menjelaskan dari total pendapatan rekening listrik PLN Karawang, 80% dikontribusi oleh Rayon Prima ini. Jadi kalau dipelototi satu rayon ini saja sudah 80% pendapatan PLN Karawang teramankan.
Lalu saya tanya lagi : “Layanan apa saja yang Anda berikan kepada pelanggan prima ini ?”

Seorang karyawati yang sudah setahun di Rayon Prima menjelaskan: “Kalau pelanggannya bertanya soal rekening listrik kami berikan penjelasan sampai detail sampai mereka puas. Kalau ada gangguan padam atau kedip kami yang melayani keluhan pelanggan.”
Dan banyak lagi yang dijelaskan yang umumnya menjelaskan value (nilai) yang didapat oleh pelanggan dari keberadaan Rayon Prima ini. Lalu saya tanya:
“Apa value Rayon Prima ini bagi PLN, khususnya dengan pemberlakuan kenaikan tarif listrik 2 bulanan di 2014 ini ?“
Mereka bingung menjawab pertanyaan ini. Hal ini bisa dimaklumi karena di rayon ini hanya fokus mengerjakan tugas sesuai prosedur yang ada tapi jarang yang mencari celah atau terobosan apa yang bisa dilakukan untuk memberi value lebih bagi perusahaan.

Setelah keluar dari Rayon Prima, saya diajak ke lantai 2 ke ruangan Manajer Area. Di sebelah ruangan Manajer Area saya lihat ada persiapan acara, saya masuk dan ternyata sedang berkumpul para Manajer Rayon se Karawang. Setelah bertegur sapa, saya berikan pertanyaan yang sama pada Manajer Rayon soal value keberadaan Unit masing-masing bagi perusahaan khususnya Rayon Prima. Mereka juga bingung menjawab pertanyaan itu. Akhirnya kami berdiskusi.

Saya lempar pertanyaan: “Pelanggan mana yang memberikan PLN keuntungan terbesar ?”
“Pasti pelanggan terbesar Pak” jawab seseorang.
“Apakah pelanggan terbesar pasti memberikan keuntungan terbesar ?” tanya saya.
“Tentu yang pemakaian listriknya (volume) paling besar Pak” jawab seorang Manajer Rayon.
“Apakah hanya ditentukan volume besar ? Bagaimana kalau pelanggan tersebut masih disubsidi ?”
“Tentu kalau sudah tidak disubsidi Pak” jawab yang lain.
Saya kejar lagi : “Dengan berbagai macam tarif dalam kelompok tarif TT dan TM seperti tarif reguler, tarif premium (yang kemudian dibagi lagi dalam premium platinum, gold, silver dan bronze), apakah Anda tahu berapa tarif listrik masing-masing pelanggan ?”
“Kami tahu Pak, ada tabelnya” jawab Rayon Prima.
“Oke, Anda tahu tarif per masing-masing pelanggan regular dan premium. Apakah Anda tahu berapa keuntungan per kWh dari masing-masing pelanggan tersebut?” kejar saya.

Mereka mulai pada bingung karena kelihatannya perhatian teman-teman di distribusi lebih fokus pada tarif (pendapatan). Tapi tidak pernah serius mendalami sisi biaya yang biasa disebut BPP (Biaya Pokok Produksi). Padahal keuntungan itu dihitung dari selisih pendapatan dan biaya, selisih antara tarif listrik dengan BPP dikalikan volume konsumsi listriknya.
Satu fenomena umum yang menjadi acuan teman-teman di distribusi adalah kalau pelanggan besar harus mendapat perhatian lebih dari pelanggan yang lebih kecil. Fenomena ini secara umum tidak salah, tetapi tidak tepat secara bisnis. Jadi pelanggan yang paling banyak memberikan keuntungan pada PLN adalah pelanggan yang selisih tarif dan BPP nya paling tinggi dengan volume konsumsi listriknya juga tinggi. Pelanggan yang masuk kategori inilah yang harus mendapat perhatian utama dari sisi bisnis, bukan yang hanya kontrak dayanya besar dengan volume konsumsi listrik tinggi.

Saya melihat kelemahan umum kita di PLN adalah dalam pertimbangan bisnis dan pengolahan data. Kita lebih banyak fokus ke aspek teknik. Dalam hal pengolahan data kita umumnya baru sampai 2 level yaitu mencatat angka pemakaian kWh (capturing data) dan menggunakannya sebagai tagihan rekening listrik (utilyzing data). Belum masuk ke level 3 yaitu analytic data management seperti menghitung selisih tarif dengan BPP masing-masing pelanggan sesuai cerita di atas. Begitu pentingnya analisis data ini, maka dalam merekrut pegawai baru di Perusahaan Listrik Alliander di Belanda, mereka lebih banyak merekrut pegawai baru yang berlatar belakang matematika dan statistik dari pada yang berlatar belakang teknik dan ekonomi.
Akhirnya di Area Karawang ini saya tuliskan di white board, tabel apa yang harus dibuat. Pertama membuat tabel selisih tarif listrik vs BPP dari berbagai kelompok pelanggan TT, TM termasuk yang jenis premiumnya (contoh tabel di bawah).
Berapa BPP yang dihitung ? BPP tentu berbeda antara tegangan layanan 150 kV (TT) dengan layanan 20 kV (TM). Berbeda juga antara satu daerah dengan daerah lainnya. BPP layanan sisi TT tentu lebih rendah dari BPP layanan TM karena pada sisi layanan TT tidak ada losses jaringan TM. BPP di Bali yang masih menggunakan minyak sebagai energi primer pembangkit listrik tentu lebih tinggi dari BPP di Jabar yang ada PLTA dan PLTU batubara. Berapa besarnya BPP di masing-masing Distribusi/Wilayah diketahui dari perhitungan transfer price yang diterbitkan oleh P3B. Untuk Karawang tentu harus dipakai BPP Jabar.

Dari tabel pertama diatas, saya minta teman-teman di Rayon Prima membuat tabel kedua berupa rincian selisih tarif listrik dikurangi BPP dikalikan volume konsumsi kWh rata-rata bulanan dari 576 pelanggan tersebut. Dari tabel ini kemudian diranking pelanggan mana yang memberikan keuntungan per kWh terbesar sampai terkecil. Dari ranking pada tabel ini, PLN bisa memberikan layanan dengan karpet merah atau layanan lebih pada pelanggan-pelanggan yang masuk kelompok ranking tertinggi. Sama dengan kalau kita sering makan di satu restoran atau ke Warung Tegal, pasti dilayani dengan lebih baik – paling tidak disapa dengan lebih ramah bukan ?
Untuk tujuan memberikan layanan yang lebih mudah dan cepat kepada pelanggan prima, Senin sebelumnya saya juga meresmikan penggunaan gadget untuk melayani pelanggan prima berikut aplikasi Prima AE (Account Executive) di PLN Distribusi Jakarta Raya & Tangerang.

Ketika saya minta 2 tabel diatas segera dikerjakan, Pak Rahimuddin menjawab: “Kami akan kerjakan tidak saja untuk Rayon Prima Karawang Pak, tapi juga untuk Rayon Prima yang lain di Jabar- Banten.” Bagus ! Lewat BOD Note ini juga saya minta semua Area khususnya Area Prima membuat 2 tabel yang sama untuk mengangkat value Area/Rayon Prima di PLN. Begitulah hasil blusukan kali ini yang ditutup Kulibem (kuliah lima belas menit) dengan materi “Analytic”.

TABEL SELISIH TARIF LISTRIK VS BPP

IMG_2940.PNG

 

 

WAKTU
Webreport Mitra

Web Report Aero Pulsa

TANGGAL
Pengunjung